DI JUAL TANAH DAN BANGUNAN CEPAT TANPA PERANTARA ,,,LOKASI STRATEGIS TENGAH KOTA NYAMAN TEMPAT PEMUKIMAN LT.344 M2 HARGA 350.000.000 NEGO, JL. PONCOWOLO BARAT V/552 RT.04/RW.02 KEL. BULULOR KEC. SEMARANG BARAT HUB: CRISTINE 02491034667
Minggu, 09 Oktober 2011
Selasa, 20 September 2011
artikel
Kisah untuk renungan bersama...Katakan sekarang...jangan tunggu sampai
esok...
Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang
bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu
menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu
adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.
Apabila dia menyadari akan kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu
berkata,"Tidak apa-apa, besok kan boleh." Sesudah besar, dia amat suka
kesekolah. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia
anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia
anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman
baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil
inisiatif untuk minta maaf dan berbaik dengan teman baiknya. Alasannya,
"Tidak apa-apa, besok kan boleh."
Ketika meningkat remaja, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi.
Walaupun dia sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah
saling tegur.
Baginya itu bukanlah masalah, kerana dia masih punyai ramai teman baik
yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu
bersama-sama, main, jalan-jalan dan macam2 lagi. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatkannya menjadi sibuk. Dia bertemu seorang
gadis yang sangat cantik dan baik. Gadis itu kemudian menjadi teman
wanitanya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, kerana dia ingin di
naikkan pangkat ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah
lagi menghubungi mereka, bahkan selalu lewat menelefon mereka. Dia
selalu berkata, "Ah, aku penat, besok saja aku hubungi mereka." Ini
tidak terlalu mengganggu dia kerana dia punyai teman-teman sekerja
selalu mau apabila diajak keluar.
Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelefon
teman-temannya. Setelah dia berkahwin dan mempunyai anak, dia bekerja
lebih kuat untuk memberi kebahagiaan pada keluarganya. Dia tidak pernah
lagi membeli bunga untuk isterinya, atau pun mengingati hari lahir
isterinya dan juga hari perkahwinan mereka. Itu tidak mendatangkan
masalah baginya, kerana isterinya selalu mengerti, dan tidak pernah
menyalahkannya.
Kadang-kadang dia merasa bersalah dan ingin punyai kesempatan untuk
mengatakan pada isterinya "Aku cinta pada mu", tapi dia tidak pernah
melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok saya akan
mengatakannya."
Dia tidak pernah bersama di acara hari jadi anak-anaknya, tapi dia
tidak tahu ini akan mempengaruhi anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhkan diri darinya, dan tidak pernah menghabiskan waktu mereka bersama dengan ayahnya.
Suatu hari, isterinya ditimpa kemalangan, isterinya ditabrak lari.
Ketika kejadian itu, dia sedang ada mesyuarat. Kemalangan itu adalah
serius dan dia tidak sadar bahwa kemalangan itu bakal menjemput
isterinya menemui yg maha mencipta. Belum sempat dia berkata "Aku cinta
pada mu", isterinya telah meninggal dunia. Remuk hatinya apabila ini
berlaku dan dia cuba menghiburkan diri bersama anak-anaknya setelah
kematian isterinya.
Tapi, dia baru sedar bahawa anak-anaknya tidak mahu berkomunikasi
dengannya.
Apabila anak-anaknya dewasa dan membina keluarga masing-masing. Tidak
ada yang peduli pada orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah
meluangkan waktunya untuk mereka.
Waktu berjalan begitu cepat, orang tua ini tinggal di rumah jompo yang
terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang
yang disimpannya dari dulu untuk perayaan ulang tahun perkawinan ke
50, 60, dan 70. Maksud dia menabung adalah untuk nanti digunakan pergi
berlibur ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama
isterinya, tapi kini terpaksa digunakan untuk membayar biaya tinggal di
rumah jompo tersebut.
Sejak dari itu sehinggalah dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan
penjaga yang merawatnya. Dia merasa sangat kesepian, perasaan yang
tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Semasa dia hendak meninggal, dia memanggil seorang penjaga dan berkata
kepadanya, "Ah, jika aku menyedari perkara ini dari dulu...." Kemudian
perlahan ia menghembuskan nafas terakhir. Dia meninggal dunia dengan
airmata dipipinya.
=========================================================
Apa yang saya ingin katakan pada kawan-kawan dan juga pada diri saya
sendiri, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju,
sebelum benar-benar menyedari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.
Jika anda pernah bertengkar, segera berbaik antara satu sama lain!
Jika anda merasa ingin mendengar suara teman anda, jangan ragu-ragu
untuk menelponnya segera.
Akhir sekali, tapi yang paling penting, jika anda merasa ingin mengatakan pada seseorang bahwa anda sangat sayang pada dia, jangan
tunggu sampai terlewat. Jika anda terus berfikir bahawa masih ada lain
hari baru anda akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.
Jika anda selalu pikir bahawa besok akan datang, maka "besok" akan
pergi begitu cepat hingga anda baru sedar bahawa waktu telah , meninggalkan anda.
Kirimkanlah email ini kepada sahabat-sahabat anda..... Atau.... anda
masih mau menunggu adanya hari esok.......
http://bima.ipb.ac.id/~anita/article.htm
Rabu, 20 Juli 2011
Latar belakang perpindahan konsumen
Selasa, 19 Juli 2011
Facts
Sources: State of the World 2003 – www.worldwatch.org
|
Background
As the world’s population grows, there is more and more pressure on the environment to produce enough food and energy without consuming the resources faster than they can be replaced. The poor are more affected by environmental degradation than those whose consumption patterns cause much of the toxic wastes, soil degradation and deforestation.Some of the main issues are:
Land degradation
Soil degradation affects a third of the world’s land and diminishes its ability to produce food for the growing population. It is caused by deforestation, poor land and water management, over-use of fertilisers and pesticides, poor waste disposal, clearance of poor land for growing food and air pollution.Urbanisation
Though 60 to 70 per cent of people in developing countries live in rural areas, more and more people are being attracted to the cities. As cities grow, productive farming land is covered in houses and roads and the remaining land has to produce more food to support even more people.Rapid urban expansion also puts pressure on infrastructure development and the environment.
Well-planned, densely populated settlements can reduce the need for land conversion, provide opportunities for energy savings and make recycling more cost-effective.
Pollution and climate change
Contamination of air, water and soil can have serious effects on the health of people and the world's ability to grow food. Since the industrial revolution, the concentration of carbon dioxide in the atmosphere has increased significantly, contributing to the greenhouse effect known as climate change. Increasing temperatures, more frequent droughts and polar ice melts also affect health and food securityAlternative energy sources such as solar, wind, hydro, biogas, thermal and tidal are being developed to address carbon pollution. While these resources are renewable and have a lower impact on the environment the technology is not developed enough to overcome their unreliability.
Marine and coastal degradation
Disposal of wastes, particularly sewage, directly into oceans is a major source of pressure on marine and coastal areas. Population growth and increasing urbanisation, industrialisation and tourism is increasing the extent of the coastal degradation.Based on: http://www.unep.org/GEO/geo3/english/overview/index.htm
Facts
|
Background
The Right to Education
Article 26 of the Universal Declaration of Human Rights states: "Everyone has the right to education. Education shall be free, at least in the elementary and fundamental stages. Elementary education shall be compulsory. Technical and professional education shall be made generally available and higher education shall be equally accessible to all on the basis of merit."The right to at least a primary education is seen as so important that the United Nations gave it the second highest priority in the Millennium Development Goals, after the eradication of extreme poverty and hunger.
The importance of education is that it creates opportunities and choices for individuals, offering chances to improve standards of living while creating citizens who are skilful, well-informed and equipped to help their country achieve economic and social prosperity.
Education for All
The 1990 Conference on Education for All, in Jomtien, Thailand, pledged to achieve universal primary education by 2000. But in 2000, 104 million school-age children were still not in school, 57 percent of them were girls and 94 percent were in developing countries - mostly in South Asia and Sub-Saharan Africa. The Millennium Development Goals set a more realistic, but still difficult, deadline of 2015 when all children, everywhere, should be able to complete a full course of primary schooling. The steps to achieving this were outlined in the Framework for Action's following six goals:- Expand early childhood care and education
A safe and caring environment and good quality early childhood care and education, both in families and formal programs, helps improve the survival, growth, development and learning potential of young children. - Provide free and compulsory education of good quality by 2015
No one should be denied the opportunity to complete a good quality primary education because it is not affordable. Children should not have to travel great distances or fear for their safety getting to school. Education needs to be inclusive and flexible, supplying the needs of all learners, including those who may have to work to help in the family businesses. - Promote the acquisition of life-skills by adolescents and youth
Many young people are unable to complete primary school, and need youth-friendly programs to help develop useful social and work-related skills. - Increase adult literacy rates by 50% by 2015
Adult education is often overlooked and under-funded. Increasing the education of adults beyond basic literacy assists families and the general development of communities. - Eliminate gender disparities in education by 2005 and achieve gender
equity by 2015
Access to education for girls includes creating safe school environments, and overcoming bias in teacher and community attitudes, courses, textbooks and teaching and learning activities. Literacy is a fundamental skill which empowers women to take control of their own lives, to engage directly with authority and to access the wider world of learning. Research indicates that there is a direct, positive correlation between women's education and increasing children's chances of surviving so that they, in turn, become healthier and better educated. -
Enhance educational quality
A quality education satisfies basic learning needs while enriching the lives of the learners and their life experiences. Such an education requires motivated students, well-trained and supported teachers, adequate facilities, relevant curriculum, an encouraging environment, clear and accurate assessment, and recognition of local communities and cultures.
Facts
|
Background
In the last decade, development literature has increasingly emphasised the role played by good governance in maximising the effectiveness of the development dollar and in achieving sustainable development.What is governance?
The term 'governance' is used to describe the way in which a country is governed. It covers the range of political, economic and administrative decisions made by the government, business and civil society sectors as they manage a country's resources and affairs.What is good governance?
The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) defines good governance as:'Good governance has eight major characteristics. It is participatory, consensus oriented, accountable, transparent, responsive, effective and efficient, equitable and inclusive and follows the rule of law. It assures that corruption is minimised, the views of minorities are taken into account and that the voices of the most vulnerable in society are heard in decision-making. It is also responsive to the present and future needs of society.'
Democracy and good governance
Many countries and international organisations regard democracy as being the most effective and fairest system of government. In a democracy bad governments can be voted out, which provides governments with an incentive to implement policies that will be good for the whole country and not just a favoured minority. An effective democracy has good institutions and active and informed citizens able to exercise their political and civil rights and to push for reforms which otherwise may not take place. Yet some characteristics of a democracy can impede good governance. Governments may sacrifice sound policy for popularity in the polls and short time frames make it difficult to implement long-term plans.Human rights and good governance
There are close links between good governance and human rights.The characteristics of good governance guarantee civil, political, social and economic rights. Citizens are able to freely express views and influence the government for change without the fear of being arrested, tortured or discriminated against. Citizens are legally protected in relation to their property, personal security and liberty. Adequate provision of basic needs, education and health services and pay enables people to fully participate in the community and decreases corruption.
Corruption and good governance
Corruption, the abuse of one’s official position for personal gain, is the extreme opposite of good governance. It is a major problem in many countries and is increasingly recognised as the greatest obstacle to achieving sustainable development. It has political, social, economic and environmental costs. Corruption undermines citizens’ trust in public institutions and offices of government, eroding the values of democracy. It increases costs for companies to do business, and decreases the tax revenues available to governments to provide public facilities such as schools, roads and hospitals. Although the kinds of practices that are considered corrupt differ among cultures, all cultures do have a framework of acceptable behaviour.Fighting corruption requires strong political will, an active civil society, a free press and freedom of information legislation coupled with a strong, clean judicial system. It takes time to change behaviours and attitudes as well as resources for people in official positions not to be tempted to engage in corrupt practices.
Minggu, 10 Juli 2011
tipologi kepemimpinanan
Gaya
kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui
tiga aliran teori berikut ini.
Teori
Genetis (Keturunan).
Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made”
(pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori
ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin
karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang
bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi
pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai
takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau
determinitis.
Teori Sosial. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
Teori
Ekologis. Kedua teori
yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi
terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut
teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil
menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat
tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman
yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan
segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan
teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh
lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja
faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.
Selain
pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut,
Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya
merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan,
serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari
pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya
kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan
situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).
Menurut
Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi
orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah
ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan
baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan
mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan
konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang
merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap
melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai
tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat
strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para
pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih
bawahan dengan secermat mungkin.
Adapun
situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di
mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku
orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan
bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun
yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena
memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang
mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi
merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan
tingkat keberhasilan kepemimpinan.
Tipologi
Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe
kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
Tipe
Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah
pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap
organisasi sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan
organisasi; Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima
kritik, saran dan pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya;
Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang
mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
Tipe
Militeristis. Perlu
diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe
militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih
sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari
bawahannya; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Tipe
Paternalistis. Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang
memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective); jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan
fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.
Tipe
Karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil
menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya
diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan
karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar,
meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka
menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik,
maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan
kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat
dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya,
Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah
seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu
terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan
sebagai orang yang ‘ganteng”.
Tipe
Demokratis. Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah
yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe
kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses
penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu
adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari
pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam
usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.
Secara
implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal
yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal,
alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang
demokratis.
Senin, 20 Juni 2011
PT.FREEPORT INDONESIA
Berkarya Menuju
Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Berkelanjutan
Kami merupakan penghasil terbesar konsentrat tembaga dunia dari bijih mineral yang juga mengandung emas dalam jumlah yang berarti. Kami sadari bahwa kebutuhan ekonomi tersebut perlu diimbangi dengan kebutuhan sosial dan lingkungan hidup, sehingga dalam memenuhi tuntutan generasi masa kini, kami tidak mengganggu kesinambungan kehidupan generasi di masa datang. Hal ini merupakan inti dari konsep pembangunan berkelanjutan yang kami lakukan. Dengan berkarya guna mencapai pembangunan berkelanjutan dalam kegiatan dan program usaha, kami ikut menjamin lingkungan hidup dan masyarakat yang sehat di wilayah kerja kami dan masyarakat di sekitar kami, yang menjadi sangat penting bagi keberhasilan kami di masa depan.
Freeport Indonesia Memberikan Manfaat Langsung 1,9 Miliar Dolar AS kepada Pemerintah Indonesia Selama 2010
Jakarta, 22 Februari 2011 - PT Freeport Indonesia (Freeport Indonesia) dengan ini memberitahukan bahwa selama bulan Oktober sampai Desember 2010, Freeport Indonesia telah melakukan kewajiban pembayaran kepada Pemerintah Indonesia sebesar 605 juta dolar AS, atau sekitar Rp 5,5 triliun dengan kurs saat ini, yang terdiri dari Pajak Penghasilan Badan sebesar 336 juta dolar AS, Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Daerah serta pajak-pajak lainnya sebesar 130 juta dolar AS, dan royalti sebesar 46 juta dolar AS, dan dividen bagian Pemerintah 94 juta dolar AS.Dengan demikian, total pembayaran yang telah dilakukan Freeport Indonesia selama tahun 2010 sampai dengan bulan Desember telah mencapai 1,922 miliar dolar AS atau sekitar 17,4 triliun rupiah dengan kurs saat ini, yang terdiri dari Pajak Penghasilan Badan sebesar 1,261 miliar dolar AS; Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Daerah serta pajak-pajak lainnya sebesar 308 juta dolar AS, royalti 185 juta dolar AS, dan dividen bagian Pemerintah 169 juta dolar AS.
Nilai pembayaran triwulanan berfluktuasi sesuai dengan harga komoditas, tingkat penjualan dan produksi.
Total kewajiban keuangan sesuai dengan ketentuan yang mengacu pada Kontrak Karya tahun 1991 yang telah dibayarkan Freeport Indonesia kepada Pemerintah Indonesia sejak tahun 1992 sampai bulan Desember 2010 adalah sebesar 11,4 miliar dolar AS. Jumlah tersebut terdiri dari pembayaran Pajak Penghasilan Badan sebesar 7,0 miliar dolar AS, Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Daerah, serta pajak- pajak lainnya sebesar 2,2 miliar dolar AS, royalti 1,2 miliar dolar AS dan dividen sebesar 1,1 miliar dolar AS.
Freeport Indonesia juga memberikan kontribusi tidak langsung bagi Indonesia termasuk investasi infrastruktur di Papua seperti kota, instalasi pembangkit listrik, bandara udara dan pelabuhan, jalan, jembatan, sarana pembuangan limbah, dan sistem komunikasi modern. Infrastruktur sosial yang disediakan oleh perusahaan termasuk sekolah, asrama, rumah sakit dan klinik, tempat ibadah, sarana rekreasi dan pengembangan usaha kecil dan menengah. Freeport Indonesia telah melakukan investasi senilai kurang lebih 6,6 miliar dolar AS pada berbagai proyek.
Berdasarkan studi yang dilakukan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-UI) pada tahun 2010, kontribusi Freeport Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto Daerah (PDRB) Kabupaten Mimika mencapai 96%, sedangkan untuk PDRB Propinsi Papua mencapai 60%. Kontribusi Freeport Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 1,59%.
Sampai dengan tahun 2010, jumlah total karyawan Freeport Indonesia dan perusahaan kontraktornya berjumlah lebih dari 22.000 orang; 30% diantaranya adalah pekerja asli Papua dan hanya mempekerjakan kurang dari 2% tenaga asing. Untuk meningkatkan tenaga terampil asal Papua, pada tahun 2003 Freeport Indonesia mendirikan Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) sebagai pusat pelatihan tenaga terampil yang sampai saat ini sudah meluluskan lebih dari 1.500 siswa magang untuk bekerja di Freeport Indonesia dan perusahaan kontraktor.
Freeport Indonesia senantiasa berupaya menjalankan kegiatan operasi pertambangannya dengan cara yang mengedepankan hubungan yang positif dan terbuka dengan masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan lain guna mendukung manfaat berkelanjutan. Sepanjang tahun 2010, Freeport Indonesia telah menginvestasikan lebih dari 137 juta dolar AS dalam berbagai program pembangunan berkelanjutan di Papua; di mana 69,7 juta dolar AS diperuntukkan untuk program pengembangan masyarakat melalui dana kemitraan.
Langganan:
Postingan (Atom)